Melihat Berita di
beberapa media elektronik, April 2015
di mana ramai diberitakan tentang kontroversi Surat Terbuka
Anggun C Sasmi di beberapa
media. Saya sebagai orang yang bisa dikatakan agak aktif
di dunia online mungkin hanya ingin menganalisa. Sekali lagi saya
hanya menganalisa, tentunya dengan pokok-pokok pikiran saya sendiri
yang mungkin bisa menjadi bahan diskusi teman-teman semua.
Di
surat terbuka tersebut ada dua pokok yang jadi bahasan utama, yaitu
HAM dan hukuman mati itu sendiri. Hak Asasi Manusia memang melekat
pada setiap diri manusia. Inilah yang membedakan manusia dengan
makhluk lainnya. Tapi apakah hak itu harus tetap dipergunakan dan
atau diperjuangkan di kala manusia-manusia lain mendapat akibat
negatif dari perbuatan manusia itu sendiri. Menurut pokok pikiran
saya, perbuatan-perbuatan negatif tidak memiliki benang merah dengan
HAM itu sendiri. Perbuatan-perbuatan tersebut memang memiliki akibat
kepada manusia lain di mana perbuatan tersebut tentu memiliki sebab.
Apapun sebab yang membuat seseorang berbuat negatif, tetap ada
pertanggungjawaban pada orang tersebut.
Dengan
pendidikan seseorang yang paling rendah sekalipun, setiap orang
memiliki bakal perbuatan negatif
sesuai kapasitas orang tersebut. Orang lulusan rendah tidak akan
melakukan kejahatan pembobolan dana nasabah, sebaliknya orang
pendidikan tinggi tidak akan mencuri ayam tetangganya. Dari logika
tersebut kiranya dapat dibuat kesimpulan bahwasanya perbuatan negatif
akan lahir dari setiap orang sesuai dengan kapasitas SDM yang
dimiliki orang tersebut.
Masihkah kau dengar di radio?
Tentang seorang berandalan di bangku
terminal
Yang melawan nasib dengan
berpeluh-peluh nista
Untuk hidup yang tak pernah ia turut
campur
Melukiskannya
Masihkah kau lihat sebuah berita?
Tentang seorang mahasiswa di bangku
kuliah
Berteman buku yang berserak-serak
Yang tanpa tahu entah
Kapan ia akan membukanya
Masihkah kau lihat mereka
Pegawai-pegawai pemerintah berseragam
dinas
Yang mengeluh atas idealisme
Yang berteriak tentang kebenaran
kesalahan
Bahwasanya mereka adalah orang-orang
pilihan
Suatu pagi, aku datang di gedung-gedung
megah
;Milik mereka
Kudengar kicau dan bisik di antara
bangku-bangku
Yang mereka beli dari uang mereka, oh
Uang kami
Kudengar jua di antara deru suara mesin
pendingin ruangan
Dan speaker-speaker menggelegar
Hingga ujung-ujung daun bergetar
Ah, wanita itu lagi.
Mungkinkah ia malaikat? Aku tak tahu. Yang kutahu dengan
style
tomboy tanpa penutup kepala yang sering mereka sebut hijab, kerudung
dan apalah itu. Tanpa itu semua, ia masih cantik. Aroma kemagisan
membiusku dalam dunia yang tak sengaja kumasuki. Aku terpana.
Kukenal
banyak perempuan, dan rata-rata mereka berhijab. Tapi apa yang
kudapat? Hanya kelindan hati yang tak kunjung langsai. Mereka tak
ubahnya para pengelana malam yang bertudung sopan. Tutur kata
rata-rata sopan, dengan tingkah dan nada bicara diatur. Tentunya
sengaja diatur. Aku tahu, tak semua orang berhijab sama. Tapi, paling
tidak dari beberapa perempuan yang kukenal, mereka merumitkan
hidupku. Iya, hidupku, bukan hidup mereka.
Perempuan
pertama, kukenal di tempat yang selalu menjadi singgahanku. Tempat
yang selalu menguarkan aroma kopi kental dan tentunya hitam. Beberapa
kali ia membuatku terpesona. Candaan hingga curhatan yang berujung
pada cinta, kurasa. Memang, cinta adalah sebuah kebiasaan. Kebiasaan
yang terkadang disengaja dan tak jarang pula tak disengaja. Tapi
akhirnya, ia terlalu mengatur hidupku. Mengurusi hidupku layaknya
belahan jiwaku. Ketika aku mulai menarik diri, ia mulai menebarkan
kata-kata yang tak manja. Memojokkan diriku di dunia yang kami
sama-sama berada di dalamnya.
Dalam hati bertanya-tanya, bisa-bisanya keadaan yang sudah memanas menjadi lebih panas. perseteruan antar elite, perseteruan antar lembaga, perseteruan antar parpol, bahkan sampai yang terbaru, satu lembaga saling berseteru. Satunya merasa korban, mencoba membongkar hal-hal yang menjadi rahasia, yang lain akan mempidanakan...
Fiuh, bikin rakyat seperti kita bingung...
sebenarnya seandainya para pemimpin ketika Fit n Proper test ada pemantapan moral, tidak akan terjadi seperti ini.
Akhirnya, mari kita berdoa dengan sungguh2, semoga ap yang menjadi badai di bangsa kita segera terselesaikan, dan tidak ada dusta antara pemimpin dengan rakyatnya