aku tak hanya cermin
yang bisa menggambar wajahmu yang terperih
tapi aku juga bisa membisikkan lirih
sebait kata indah yang akan terus kau ingat
aku cermin abadi
yang mengisi sudut otak abadimu
yang akan terus mengeja hadirmu
sebab rindu menjuntang lebat di antara hutan belantara
dan di hatimulah aku bisa berkata
dan terdiam bermakna di sudut senja
ketika manusia sudah tak lagi kau percaya
sebab pendustaan yang sering terdengar
mereka lemparkan sejurus fitnah murahan
mereka kabarkan pencitraan yang terlihat nyata
mereka biarkan kebaikan semu membunuh malam
demi nafsu yang melingkari sudut usia mereka
percayalah padaku,percayakan keyakinanmu
bahwa akulah yang hanya kau dengar
demi pengejawantahan abadi yang tak semu
atau filosofi gila dari sang penguasa
karena akulah cerminan hatimu
akulah angin malam
yang selalu menelusup dalam sepi menghunjam
tanpa hentak pilu redam
tatkala hati terpisah jarak
kamulah sang penyepi
saat bertalu miris tak romantis
dan gerimis merajam bengis
hingga hati hanya bisa menangis
dan aku terpaut satu denganmu
sebab tugasku menjagamu
dalam hening malam terpuja kelam
agar terang tersangkut bersama kita
hingga pagi menjelang
Aku
sedang menyeruput kopi hitam kesukaanku. Namun kali ini berbeda, aku
menikmatinya di tengah kesejukan Bromo. Keadaanlah yang menuntunku ke
sini. Kurasakan embun yang tak pernah kudapat di kota, embun yang
selalu bersama mentari. Dan mentariku di sini, yang selalu
menyinariku tanpa bisa menyentuhnya. Selalu mengisi langit di pagi
hari saat siluet pagi menelusup melalui dinding kamarku.
Tak
terasa hampir satu jam di kafe ini, dan sedang menunggu seseorang.
Seseorang yang sudah lama tak pernah kutemui. Ya, aku menyempatkan
diri kemarin datang ke sini, menginap di hotel yang bisa dibilang
Super Melati. Aku hanya pekerja IT, yang berkutat dengan kode
program. Sudah beberapa tahun terakhir, kesibukanku sangat bertambah
sebab project- project IT sudah mulai banyak kutangani. Dan membuatku
lupa kemagisan bromo dan seseorang yang membuatku buncah riuh
beberapa tahun lalu.
“Siang
Mas, maaf aku terlambat, aku mendadak memandu turis dari Belanda pagi
tadi”, suara yang mengalun merdu di ujung telingaku dengan nafas
yang sangat aku hafal, yang membuatku datang memburu cinta yang
terpendam beberapa tahun lalu.
Namanya
Eka, aku biasa memanggilnya “Ka” dengan logat khasku. Dulu dia
kukenal saat masih kuliah, dan pria manapun sangat bodoh jika tak
kagum padanya. Anggun tutur kata dan tak mudah marah, bahkan saat dia
kukecewakan.
“Gak
papa Ka, kamu duduk dulu, aku sudah pesan minuman kesukaanmu”,
ujarku sambil mengagumi kecantikannya yang masih seperti dulu, saat
aku gilai, saat selalu kuimpikan tiap hari.
Cerita
ini bermula dari seringnya aku nongkrong di depan bakal museum baru,
di kotaku. Museum yang dulunya rumah seorang dokter ketika jaman
belanda. Nama dokter itu, “Dr. Saleh”, dokter yang berkebangsaan
belanda, tapi sangat peduli dengan perjuangan kita, Indonesia,
khususnya di kotaku, Probolinggo, Jawa Timur.
Rumah
tua ini memang sudah tak pernah ditinggali oleh ahli warisnya,
keturunan – keturunannya. Semua keturunannya berada di Jakarta, dan
menyerahkan pengurusan rumah ini pada suami istri penjaga warung kopi
depan rumah ini.
Jalan
saja, di kawasan ini dinamai sesuai dengan namanya, “Jl. Dr.
Saleh”. Yang konon dulunya tanah di kawasan ini adalah milik
dokter, namun sudah banyak beberapa yang dihibahkan, baik menjadi
tempat pendidikan / sekolah, rumah pribadi ataupun fasilitas publik
seperti tempat nongkrong anak – anak muda. Dan rata – rata
bangunan di sini sudah sangat tua, dan banyak juga yang memang
disewakan oleh ahli warisnya dengan catatan tidak merubah bentuk asli
bangunan.
Namun
yang sangat tua, ya rumah dokter sendiri, dengan dibarengi cerita –
cerita yang kadang kalau kita pikir tak masuk akal. Tak masuk akal
karena mungkin saja ditambahi oleh sang pencerita. Karena cerita
jalanan seperti ini masih rentan kebenarannya, dan hanya bermalam di
situ aku pikir bisa membuktikan kebenarannya.
Jova memukul – mukul
kepalanya tanda putus asa. Sudah beberapa kali ini dia melakukan itu,
dan akupun hanya sanggup memberi dia sandaran tatkala dia
membutuhkannya. Dan sampai detik inipun aku tak tahu apa yang
menyebabkan kegundahan Jova.
Jova sebenarnya seorang
gadis periang, seperti tak ada waktunya untuk bersedih, bahkan hal
yang menuntut bulir – bulir air mata harus jatuh seperti gadis
kebanyakan, jova tak
pernah kulihat melakukan itu. Jova seperti senja yang selalu
kutunggu, aku nikmati senyumnya bersama bulir – bulir pagi yang
menetes, bersama terik siang yang selalu dia katakan hangat, dan
bersama malam tanpa selimut yang tak pernah dia rasakan kedinginan.
Bahkan
di saat dia terluka akan arti cinta, jova tak bersedih. Dia hanya
berkata, “Cintaku padanya mungkin tertulis hanya sampai di sini.
Dia tak pernah merenggut keabadian senjaku, karena dia hanya datang,
bukan tinggal. Dan mungkin Tuhan masih merahasiakan kecintaan
abadiku”. Jova pun terus melanjutkan hidup, tanpa dia toleh kembali
kemarin sore, tanpa dia ingat kembali manisnya cinta yang telah
terkhianati. Ya, jova adalah pribadi yang kuat, tak pernah berpikir
sesaat, serta selalu bersemangat dalam hidup yang telah digariskan
padanya.