Dan
akulah sang penghinggap
Selalu memaksa menghinggapimu tatkala yang
lain menembusmu dari segala arah. Hanya menghinggapimu tanpa ingin
menyesapmu, karena aku mencintai hadirmu dan menjagamu dalam raga
yang sudah tak kuat berperang. Dan akulah sang penghinggap, yang
hanya ingin mengenalimu untuk menyamakan nalurimu naluriku. Ingin
menjadikanmu yang teristimewa di antara bintang-bintang malam.
Menjadikanmu penanda arah, tatkala bintang di langit sudah tak
menunjukkan diri.
Dan dengan menghinggapimu, ragaku menjadi bernyala
demi sebuah pengabadian yang bernama cinta.
Akulah
sang penikmat hujan
demi
sebuah rasa yang telah membuncah
karena
hadirmu hujanku bertalu
karena
hadirmu jua aku memujamu
dan
akulah sang perasa hujan
tatkala
semua berlari menghindar
aku
masih tegak berdiri mematung
karena
aku tahu, kamu hadir saat hujan menyesap malu
kusesap
ricik air hujan senja
tak
hirau raungan sekelilingku
tak
peduli apa kata mereka
bagiku
hujan adalah sesuatu yang perlu aku rasa
karena...
untukmu
hujan datang
untukmu
hujan bersandar
dan
karenamu aku mencinta hujan
Dalam larik dinding kamar
aku masih bisa mendengar
suaramu yang mencekam
menggetarkan singgasana tatkala pagi menghadang
dalam larik dinding kamar
masih ada rindu yang tertahan
sebab cinta yang masih belum usai
karena jarak yang memang tak pasti
dinding itu memang rapuh
tapi masih bisa menahan goncangan
demi sebuah keabadian tak semu
untukmu yang memang terpuja lebat
dan dalam larik dinding kamar
aku masih menunggumu
karena aku pemuja rindu
Akulah sang penDONORmu
yang memberi asupan cinta saat semua
peduli semu
seperti hujan menyirami tanahku tanahmu
naluriku menyamai nalurimu
dan akulah sang peNOMOR
yang menandaimu sebagai yang pertama
dan utama
menjadikan rindu menelusup syahdu
antara punggawa-punggawa hatiku
untuk sebuah kata yaitu “kita”
seperti suasana kelengangan KANTOR saat
malam
akulah yang memujamu dalam kepekatan
tanpa jelaga
tatkala semua terbujur tapi tak kaku
dalam peraduan
aku masih merindumu demi sebuah
keabadian
dan akulah sang pemuja rindu
akulah kursi tua
yang selalu setia memangku harapan
tatkala kursi lain enggan
demi sebuah pengakuan
akulah kursi tua
yang tak pernah lelah
menjadi yang terakhir memanjakanmu
demi sebuah kebahagiaan tak semu
dalam malam mencekat
beranjak pagi pelan dan senyap
aku masih mau menemanimu
untukmu yang memuja rindu
demi sebuah keabadian
aku tetaplah kursi tua
yang akan terus berjuang menjagamu
karena nalurimu adalah naluriku
dan akulah sang pelengkap hidupmu
Probolinggo, 4 Juli 2013