Suara dengung mengibas di sela-sela
Awan yang sedang tengadah
Tanpa gempita serta pekik sorak
Di antara perigi di atas tungku
Suara hening nanar tak jenuh
Terngiang terhampar di sebuah tanah
Lapang
Tanpa jejak tanpa bekas
;karena luka sebelumnya belum langsai
Suara hati menyibak harapan
Yang dulu pergi
Menggugah burung hantu yang lelap
Serta daun-daun yang hendak
::gugur
Engkaukah yang harus kupeluk
Dalam duniaku yang dulu hampir
Jatuh ke tanah dan mati?
Engkaukah yang harus kusiasati
Ketika sisa-sisa tenaga sedang parah
Ketika netra sudah hampir redup
Tertutup sebuah jelaga panjang
Engkaukah itu?
Probolinggo, 21 desember 2016
musim berganti musim, agar kita tumbuh
pagi berganti malam, ketika hening meriap sukma
tunas daun menjadi daun, agar kita tahu
bahwa proses adalah sebuah seni melipat jiwa
dan engkau;
masih sebatang randu yang semakin kokoh
di antara terik matahari dan riuhnya suara
tanda dunia masih ada
dan engkau;
masih sebatang randu
yang pernah merasakan pedih dan bahagia
manusia yang mencintaimu
dan engkau;
masih sebatang randu
di antara gelegar petir dan heningnya hujan
di malam meriap sukma
::serta embun di sela daun, yang kemudian jatuh ke tanah
dan mati
dan aku;
masih melihatmu
dengan netra yang tak pernah pudar
serta hati yang tak pernah rapuh
hanya untuk ingin mengatakan kepadamu
sebuah sajak yang masih ada
::seperti dahulu
Probolinggo, 17 Desember 2016
selarik sajak, dari seribu sajak yang
belum sempat kukirimkan,
bahwa tersirat sebuah kalimat panjang
di antara kepak sayap merpati yang pernah
hinggap di hati
separuh malam kuhabiskan
separuh gelisah kulewati
dan aku masih terpaku
pada kata-kata pembuat rindu
yang tak mampu kusampaikan
yang tak mampu kugambarkan
apalagi kutuliskan berbentuk sajak sederhana
::kepadamu pemilik mata syahdu
dalam gelisah aku tabur doa
dalam hening kuterbangkan sukma
agar dapat bercengkrama dalam pejam yang paling basah
::kepadamu yang pernah membuatku gelora
kau menyisakan hujan di jalanku
yang basah
kau meninggalkan jeda di sela-sela
hidupku yang tak lagi bertuan
masih bolehkah aku
menuliskan cerita hidup yang panjang
;lagi
::denganmu
untukmu penjelmaan angka yang sulit aku terjemahkan
Probolinggo, 18 Desember 2016
Aku gelisah
Ketika penghujung tak jua kutemukan
Dibalut selembar rindu, ditawan sejengkal kata
Jangan!!
Aku masih terduduk, di selembar meja ini. Berteman dengan sebatang rokok dan secangkir kopi. Iya, aku masih menunggu sembari mencoba menulis selarik sajak.
Alunan lagu, sorak sorai pengunjung di tepian malam yang hanya selembar peluh. Tak membuatku beranjak dari menunggu.
Akulah hening, yang tenggelam dalam dunia menunggu.
Yang terpejam dalam kepungan waktu, untuk menunggu.
Yang terserap pada untaian embun serta kelingan mata angin di seberang telingaku.
Akulah jelaga, yang tenggelam di pucuk-pucuk mimpi.
Yang berkelana tanpa angin, tanpa cerita bahagia, serta tanpa sajak-sajak puitis malam ini hingga malam sangkakala nanti.
Sebab --jelaga tak pernah protes mengapa ia adalah jelaga.
Sendratari, nyanyian, lengkingan serta tempik sorak memenuhi langit pikiranku. Membuyarkan lamunan hening yang entah kapan jatuh ke tanah.
--dan mati
Masihkah kamu menunggu?
Probolinggo, 17 April 2016