Buatkan kami madu,
Yang dapat kami makan setiap pagi buta
Yang aromanya membuat lenguh
Sejuta impian dan harapan serta keinginan
Kami yang panjang
Berikan kami bunga,
Yang putiknya dapat segera kami sesap
Yang tangkainya dapat kami cengkeram
Dengan kuat dan tak mungkin lepas
Dalam tidur kami yang nikmat
::karena kata sekawanan lebah, saudara adalah yang bisa menyediakan seluruh frasa dan berbaris2 sajak
--tentang keinginan mereka
Kubuat puisi saja,
Yang tertulis tentang aroma kesturi
Serta doa panjang dan hakiki
--untukku saja
Kubuat huruf-huruf tanpa jeda
Yang mendaraskan panjang sebuah peleburan hakiki
Tentang Aku bersama aku yang sempurna
--bukan tentang mereka yang selalu berhasrat untuk keinginannya
;sendiri
::karena pula, sekawanan lebah itu bukan saudaraku dalam sesaknya perdu
;mereka penikmat kopi yang diseduh madu
Perjalanan, 25 April 2017
Kemarin, Raden Mas terantuk batu,
Kemarinnya lagi, Mbak Yu tak mampu bersuara
Hari ini mereka berdua bilang padaku,
"Kemana kamu kemarin saat pagi menjunjung untaian padi?"
Peluklah diriku saudaraku; katanya
Seperti embun yang selalu datang di pagi hari
Ia walau jatuh ke tanah, takkan mati
Karena pagi adalah tempat ia tak bermetafora
"Maafkan aku Raden Mas dan Mbak Yu ku";
Tunggu hari menjelang siang, aku pasti ada untukmu
Hari ini mereka bergembira, karena hujan yang mereka tunggu, angin yang mereka damba telah langsai dalam genggamannya
Hari ini mereka gempita,
Karena jelaga dan nanarnya bunga perdu telah mereka singkirkan bersamaku
;oh.. maaf bukan bersamaku
::karena seperti yang sudah,
Apatah arti seorang ikan nemo di teluk
Apakah arti gonggongan anjing
Di hutan yang beranjak pergi
Hari ini kukatakan padamu, pada kalian
Raden Mas Sumir dan Mbak Yu ku Ambigu
Cukup bahagia perahunya telah menderu
Cukup gempita layarnya tlah berkembang
Dan aku mengembun, menempel di kaca cermin usang
Menunggu Raden Mas Sumir dan Mbak Yu Ambiguku
Mengelap dan menghembus cermin di kakinya
::saat ia bilang, "aku perlu cerminmu"
Perjalanan, 24 April 2017
di salah satu sisi kamar
aku memelukmu dan melepasmu
seperti tangan yang tak mungkin lepas
seperti mata yang tak bisa berkedip
di salah satu sisi kamar
nafas kita berhenti jantung kita
berdetak
namun, rasa kita tak bisa lepas
di salah satu sisi kamar
hujan di luar tak berhenti
dingin menusuk hingga gigil
::tapi kita tak mungkin terlepas
di salah satu sisi kamar
senyummu terpagut, senyumku terkesiap
hingga daratan panjang di sepasang
bibirmu dan bibirku yang menginginkan
sebuah rasa yang telah membuncah riuh
di salah satu sisi kamar
akankah ini kita ulangi lagi?
Sebagai cinta yang tak mungkin
berhenti?
Yogyakarta, 25 Januari 2017
Suara dengung mengibas di sela-sela
Awan yang sedang tengadah
Tanpa gempita serta pekik sorak
Di antara perigi di atas tungku
Suara hening nanar tak jenuh
Terngiang terhampar di sebuah tanah
Lapang
Tanpa jejak tanpa bekas
;karena luka sebelumnya belum langsai
Suara hati menyibak harapan
Yang dulu pergi
Menggugah burung hantu yang lelap
Serta daun-daun yang hendak
::gugur
Engkaukah yang harus kupeluk
Dalam duniaku yang dulu hampir
Jatuh ke tanah dan mati?
Engkaukah yang harus kusiasati
Ketika sisa-sisa tenaga sedang parah
Ketika netra sudah hampir redup
Tertutup sebuah jelaga panjang
Engkaukah itu?
Probolinggo, 21 desember 2016
musim berganti musim, agar kita tumbuh
pagi berganti malam, ketika hening meriap sukma
tunas daun menjadi daun, agar kita tahu
bahwa proses adalah sebuah seni melipat jiwa
dan engkau;
masih sebatang randu yang semakin kokoh
di antara terik matahari dan riuhnya suara
tanda dunia masih ada
dan engkau;
masih sebatang randu
yang pernah merasakan pedih dan bahagia
manusia yang mencintaimu
dan engkau;
masih sebatang randu
di antara gelegar petir dan heningnya hujan
di malam meriap sukma
::serta embun di sela daun, yang kemudian jatuh ke tanah
dan mati
dan aku;
masih melihatmu
dengan netra yang tak pernah pudar
serta hati yang tak pernah rapuh
hanya untuk ingin mengatakan kepadamu
sebuah sajak yang masih ada
::seperti dahulu
Probolinggo, 17 Desember 2016